Sabtu, 28 Mei 2011

KONTEMPLASI ITU APA YAAA ???

KONTEMPLASI DAN EKSTANSI ITU ????
Konon meditasi itu banyak menolong. Tapi saran orang, meditasi itu perlu mengosongkan pikiran. Dan saya selalu kesulitan mengosongkan pikiran. Jadi susah. Maka saya mengganti meditasi dengan doa dan kontemplasi. Kontemplasi itu mirip dengan meditasi tapi tidak sepenuhnya mengosongkan pikiran. Kontemplasi lebih pada merasakan kehadiran Tuhan, memikirkan dan merenungkan konsep kehidupan. Mengevaluasi diri. Menghayati jalannya hidup kita. Sebenarnya saya sudah lama dengar konsep kontemplasi. Tapi baru belakangan saya menyadari kebutuhan saya akan kontemplasi ini.
Ceritanya, saya baru sadar betapa kita hidup sering seperti robot. Menjalankan algoritma. Menjalankan kebiasaan. Habits. Saya ambil contoh, bertahun-tahun saya selalu mengambil rute yang sama dari rumah ke kampus dan kembalinya. Selalu rute itu. Dulu sebelum ada jalan layang, rute saya selalu dari Gunung Batu, ke terusan Pasteur, Wastukencana, Tamansari, Kebon Binatang dan belok ke Ganesha. Kembali nya juga lewat rute yang sama.
Sampai suatu hari saya memutuskan untuk pulang lewat Siliwangi, Cipaganti, Cemara, Karang Setra, Setrasari, Surya Sumantri, baru ke Gunung Batu. Dan rute ini sering lebih lancar ketimbang macet di Tamansari bawah. Saya masih ingat perasaan saya waktu ganti rute, seakan-akan saya pindah kota. Lebih segar.
Ternyata ada banyak sekali yang kita lakukan itu adalah kebiasaan. Habits. Tidak mikir lagi. Tidak ada evaluasi. Seperti robot. Memang semua habits itu banyak berguna. Kita bisa cepat melakukan sesuatu. Tidak pusing. Tanpa mikir. Dan sudah terlatih. Tapi habits itu bisa membuat kita terjebak, tidak maju, merasa stagnan, dan bahkan seakan-akan hidup tanpa kemajuan.
Jalan keluarnya adalah kontemplasi. Melalui kontemplasi, kita merenungkan siapa kita, apa panggilan hidup kita, apa sebenarnya dunia ini, apa kedudukan kita di dunia ini. Melalui kontemplasi, saya bisa bebas mempersoalkan semua kepercayaan dan asumsi saya mengenai hidup ini. Melalui kontemplasi, saya bisa mengenali semua yang menghantui hidup saya, dan mencari jalan untuk mengusir hantu-hantu itu. Melalui kontemplasi, saya bisa membangun penerimaan dan citra diri yang lebih mulia. Melalui kontemplasi, saya bisa memilih jalan-jalan baru yang ingin saya tempuh. Melalui kontemplasi, saya menyadari betapa beruntungnya saya, betapa banyak berkat saya.
Kontemplasi ini menghasilkan hal-hal yang istimewa dan ajaib dalam kehidupan kita. Jadi kalau anda merasa hidup anda sesak, lumpuh, tidak menarik, tidak berkembang, tidak ada kemajuan, maka anda sedang terjebak dalam hidup dari kebiasaan, hidup otomatis, hidup robotik. Saya ingin mengajak anda untuk melakukan kontemplasi setiap hari. Merenungkan apa hakekat hidup anda.
Ekstansi adalah dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasa, dan menikmati sesuatu yang indah. apabila kedua dasar ini dihubungkan dengan bentuk di luar diri manusia, maka akan terjadi penilaian bahwa sesuatu itu indah. Sesuatu yang indah itu memikat atau menarik perhatian orang yang melihat, atau pun mendengar. Bentuk di luar diri manusia itu berupa karya budaya yaitu karya seni lukis, seni suara, seni tari, seni sastra, seni drama dan film atau berupa ciptaan Tuhan, misalnya pemandangan alam, bunga warna-warni dan lain sebagainya.

Apabila kontemplasi dan ekstansi itu dihubungkan dengan kreativitas, maka kotemplasi itu adalah faktor pendorong untuk menciptakan keindahan. Sedangkan ekstansi itu merupakan faktor pendorong untuk merasakan menikmati keindahan karena derajat kontemplasi dan ekstansi itu berbeda-beda antara setiap manusia, maka tanggapan terhadap keindahan karya seni juga berbeda-beda. Mungkin orang yang satu mengatakan karya seni itu indah, tetapi orang lain mengatakan karya seni itu tidak atau kurang indah. Karena selera seni berlainan. Bagi seorang seniman selera seni lebih dominan dibandingkan dengan orang bukan seniman. Bagi orang bukan seniman, mungkin kata ekstansi lebih menonjol. Jadi, ia lebih suka menikmati karya seni daripada menciptakan karya seni. Dengan kata lain, ia hanya mampu menikmati keindahan tetapi tidak mampu menciptakan keindahan.

SUMBER : http://azrl.wordpress.com/2009/11/18/kontemplasi/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar