Sabtu, 12 Oktober 2013

Tugas 1 - Konsep Dasar Lanjutan

Manajaer sebagai pengguna informasi
Informasi bagi manajer sangat diperlukan untuk membuat keputusan, mengelola kompleksitas hubungan antara organisasi dan lingkungannya, serta menjadikannya sebagai dasar pengendalian. Manajer perlu memiliki visi, etika, dan kepekaan untuk meghadapi tantangan peubahan dunia yang begitu cepat. Untuk membangun sebuah sistem, manajer perlu memadukan konsep keilmuan untuk menyempurnakan SI berbasis TI yang secara efektif digunakan untuk meningkatkan kualitas informasi dalam sebuah organisasi. Untuk itu diperlukan sistem yang dapat mengelola data yang ada didalam maupun diluar perusahaan. Sistem dirancang dengan sedemikian rupa untuk menentuka validitas data yang didukung oleh para pengeola dan staf perusahaan dalam menganalisa masalah. Sehingga menjadi informasi yang berguna bagi perusahaan, informasi yang baik tentu memiliki keakuratan, kesempurnaan, tepat waktu, relevansi, mudah dan murah.
Tingkatan manajerial sistem informasi
Manajerial SI berbasis TI memiliki tingkatan dimulai dari Sistem Pemrosesan Transaksi, SIM, SPK dan SI e-business. Sistem informasi sangat berpengaruh dalam efektifitas perusahaan. Perusahaan dengan teknologi yang baik tentu lebih cepat dalam mengelola informasi yang dihasilkan seperti laporan0laporan untuk perusahaan. Selain itu manfaat dalam pembangunan sistem informasi dapat meningkatkan kualitas produk, kecepatan layanan konsumen serta meningkatkan citra perusahaan.
Klasifikasi sistem informasi
Sistem informasi memiliki empat klasifikasi secara umum yaitu level organisasi, area fungsional, dukungan yang diberikan dan arsitektur SI. Dalam level organisasi dikelompokkan menjadi SI departemen, perusahaan, dan antar organisasi. Pada klasifikasi area fungsional terdapat penjualan dan pemasaran, manufaktur, keuangan, akuntansi, dan SDM. Klasifikasi berdasarkan dukungan yang tersedia meliputi TPS, MIS, DSS, EIS, ES, OAS dan GSS. Klasifikasi menurut aktifitas manajemen diantaranya Si pengetahuan, operasional, manajerial dan strategis. Sedangkan klasifikasi menurut arsitektur sistem dibedakan menjadi sistem berbasis mainframe, PC tunggal dan komputasi jaringan.
Nama Kelompok : Alfina Octora, Fini Erna Dewi, Rizki Rahman, Budi Waskito, Luth Mursalino
Kelas : 4KA26

Minggu, 12 Mei 2013

Tugas 3 - Bahasa Indonesia

Nama : Alfina Octora
Npm : 10110547
Kelas : 3KA26
Contoh Surat Permohonan Izin

Rabu, 24 April 2013

Tugas 2 Bahasa Indonesia

Nama : Alfina Octora, NPM : 10110547, Kelas : 3KA26
METODE ILMIAH
A. Pengertian
Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut kemudian diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, maka hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah. Penelitian ilmiah berfokus pada metode yang kokoh untuk mengidentifikasi permasalahan, mengumpulkan data, menganalisis data dan menarik kesimpulan yang valid. Penelitian ilmiah bersifat lebih obyektif karena tidak berdasarkan pada perasaan, pengalaman dan intuisi peneliti semata yang bersifat subyektif. Penelitian ilMiah melibatkan theory construction dan theory verification. Konstruksi teori yang akan digunakan untuk mengembangkan suatu hipotesis yang relevan dengan struktur teorinya. Selanjutnya dengan menggunakan fakta, maka hipotesis tersebut diuji secara empiris.
B. Tujuan
Tujuan penulisan berarti mendeskripsikan jawaban dari apa yang dipermasalahkan, katakanlah, kalau persoalannya adalah bagaimana cara memberdayakan masyarakat agar memiliki minat baca berarti tujuan penulisannya adalah menggambarkan cara memberdayakannya. Kalau persoalannya adalah seberapa jauh pengaruh intelektualitas seseorang terhadap kepribadian berarti kita tengah mengukur atau menjelaskan pengaruh kecerdasan itu pada kekuatan kepribadian yang menumpunya (Dadan, 2011:32).
DAFTAR PUSTAKA
Surwadana, Dadan. 2011. Cerdas Berbahasa Indonesia (berbahasa dengan pemahaman dan pendalaman). Bogor : Jelajah Nusa http://charensha.wordpress.com/2011/02/23/pengertian-metode-ilmiah/

Senin, 18 Maret 2013

Klasifikasi Sistem

Nama : Alfina Octora NPM : 10110547 Kelas : 3KA26
KLASIFIKASI SISTEM
Sistem dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandangan, diantaranya adalah sebagai berikut ini:
1. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem abstrak (abstract system) dan sistem phisik (phisical system).
Sistem abstrak adalah sistem yang berupa pemikiran atau ide-ide yang tidak tampak secara phisik. Misalnya sistem teologia, yaitu sistem yang berupa pemikiran-pemikiran hubungan antara manusia dengan Tuhan. Sistem phisik merupakan sistem yang ada secara phisik. Misalnya sistem komputer, sistem akuntansi, system produksi dan lain sebagainya.
2. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem alamiah (natural system) dan sistem buatan manusia (human made system).
Sistem alamiah adalah sistem yang terjadi melalui proses alam, tidak dibuat manusia. Misalnya sistem perputaran bumi. Sistem buatan manusia yang melibatkan interaksi antara manusia dengan mesin disebut dengan human-machine system atau ada yang menyebut dengan manmachine system. Sistem informasi akuntansi merupakan contoh manmachine system, karena menyangkut penggunaan computer yang berinteraksi dengan manusia.
3. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem tertentu (deterministic system) dan sistem tak tentu (probabilistic system).
Sistem tertentu beroperasi dengan tingkah laku yang sudah dapat diprediksi. Interaksi diantara bagian-bagiannya dapat dideteksi dengan pasti, sehingga keluaran dari sistem dapat diramalkan. Sistem komputer adalah contoh dari sistem tertentu yang tingkah lakunya dapat dipastikan berdasarkan program-program yang dijalankan. Sistem tak tentu adalah sistem yang kondisi masa depannya tidak dapat diprediksi karena mengandung unsur probabilitas.
4. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem tertutup (closed system) dan sistem terbuka (open system).
Sistem tertutup merupakan sistem yang tidak berhubungan dengan lingkungan luarnya. Sistem ini bekerja secara otomatis tanpa adanya turut campur tangan dari pihak luarnya. Secara teoritis sistem tertutup ini ada, tetapi kenyataannya tidak ada sistem yang benar-benar tertutup, yang ada hanyalah relatively closed system (secara relatip tertutup, tidak benar benar tertutup). Sistem terbuka adalah sistem yang berhubungan dan terpengaruh dengan lingkungan luarnya. Sistem ini menerima masukan dan menghasilkan keluaran untuk lingkungan luar atau subsistem yang lainnya. Karena sistem sifat terbuka dan terpengaruh oleh lingkunngan luarnya, maka suatu sistem harus mempunyai suatu sistem pengendalian yang baik. Sistem yang baik harus dirancang sedemikian rupa, sehingga secara relatip tertutup karena sistem tertutup akan bekerja secara otomatis, terbuka hanya untuk pengaruh yang baik saja. Gambar berikut menunjukkan sistem yang terbuka untuk sistem pengendalian persediaan. Pada sistem terbuka ini, pengendalian persediaan barang ditangani oleh manusia. Dari hasil laporan yang dihasilkan komputer, dipilih satu persatu unit barang yang sudah lebih kecil atau sama dengan reoder point untuk dilakukan oleh pembelian. Bandingkan dengan sistem yang secara relatip tertutup berikut ini.
Dalam sistem yang relatip tertutup, proses komputer secara otomatis yang akan menyeleksi barang manakah yang harus dipesan kembali tanpa turut campur tangan manusia.
Sumber :
http://ekosasmito.blog.undip.ac.id/files/2010/03/Pokok-bahasan-2-Konsep-Sistem-Informasi.pdf

Minggu, 25 November 2012

DIKSI

Nama : Alfina Octora
NPM : 10110547
Kelas : 3KA26
Pengertian Diksi
Menurut Kamus Umum Besar Bahasa Indonesia (1997-233) disebutkan bahwa diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras untuk mengungkapkan gagasan sehingga memperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Menurut Kridalaksana (1993-44) bahwa diksi ialah pilihan kata dan kejelasan lafal untuk memperoleh efek tertentu dalam berbicara di depan umum atau dalam karang-mengarang. Didalam Wikipedia, diksi mempunyai dua arti, yang pertama merujuk pada pilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulisan atau pembicara. Arti kedua diksi lebih umum digambarkan dengan seni berbicara sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa diksi adalah pemilihan kata yang ditujukan untuk memberikan maksud dari pembicara kepada pendengar agar memperoleh efek atau tindakan tertentu.
Pedoman diksi
Dari pengertian diksi ada pakar yang berpendapat seperti Keraf dan Soedjito yang menjabarkan bahwa dalam membuat diksi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain :
a. Ketetapan diksi
Ketetapan diksi adalah kesamggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
• Memilih kata yang bermakna konotasi dan denotasi
Dalam membuat kalimat kita perlu memilih kata yang tepat baik karena denotasinya maupun konotasi. Makna denotasi adalah makna yang sesungguhnya, sedangkan makna konotasi adalah makna yang bukan sebenarnya. Contoh kalimat konotasi : Para koruptor itu cuci tangan dari kasus wisma atlet. Dalam kalimat diatas kata cuci tangan tidak berarti mencuci tangannya namun berarti sudah tidak turut campur atau terlibat dalam masalah itu. Contoh kalimat denotasi: Andi membeli kambing hitam tadi sore. Kalimat tersebut bermakna sebenarnya bahwa Andi memang membeli kambing berwarna hitam tadi sore.
b. Membedakan kata bersinonim dan berantonim
Kata bersinonim adalah kata yang sejenis, sepadan, sejajar,serumpun, dan memiliki arti yang sama, atau dengan kata lain sinonim adalah persamaan makna kata. Adapun yang dimaksud adalah dua kata atau lebih yang berbeda bentuknya, ejaannya, pengucapannya atau lafalnya, tetapi memiliki makna sama atau hampir sama.[2] Seperti contoh, kata mati, wafat dan mangkat semuanya sama artinya namun berbeda bentuknya. Sebagai seorang penulis yang handal, haruslah memiliki kemampuan dalam memilih kata yang benar sesuai dengan konteks, situasi dan kondisinya. Terkadang juga diperlukan kata-kata yang berlawanan atau yang sering disebut dengan kata berantonim. Dikatakan berantonim apabila bentuk kata tersebut memiliki makna yang berbeda dengan makna lainnya. Antonim juga menunjukkan bentuk-bentuk kebahasaan itu memiliki relasi antarmakna yang wujud logisnya berbeda atau bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Contoh, kaya>c. Pemakaian kata yang bernilai rasa Diksi senantiasa menganjurkan untuk memilih kata yang bernilai rasa secara tepat dan cermat, agar penuturan dapat dicapai dengan sebaik-baiknya. Terkadang kata baku tertentu tidak memiliki nilai rasa. Atau bahkan sebaliknya kata-kata yang bernilai rasa jauh dari dimensi kebakuan. Sehingga kata-kata yang bernilai rasa hendaklah kita gunakan secara tepat, serasi dengan situasi dan kondisi pembaca. Contoh: Ayahnya (gugur, meninggal, wafat, tutup usia) pada hari Raya Idul Fitri.
d. Pemakaian kata/ istilah asing
Ada kata atau istilah asing yang sudah ada persamaan katanya, sehingga yang dipakai dalam membuat kalimat bukanlah kata atau istilah asing tersebut, bukanlah kata atau istilah asing tersebut. Kata atau istilah asing yang boleh dipakai dengan pertimbangan sebagai berikut :
• Lebih cocok karena konotasinya, misalnya:
Kritik ---- kecaman Profesional ---- bayaran
• Lebih singkat jika dibandingkan dengan terjemahaanya, misalnya:
Eksekusi ---- pelaksanaan hukuman mati Kontrasepsi ---- alat pencegah kehamilan
• Bersifat international, misalnya:
Matematika ---- ilmu pasti Oksigen ---- zat asam
e. Pemakaian kata kongkret dan abstrak
Kata kongkret adalah kata yang menunjuk kepada objek yang dapat dilihat, didengar, dirasakan, diraba, atau dibau, misalnya, meja, mobil, motor, buku, sepatu, dan sebagainya. Sedangkan kata abstrak adalah kata yang menunjuk kepada sifat, konsep, atau gagasan, misalnya, cantik, keadilan, kejujuran,pemerintah, dan sebagainya. Maka dari itu kata kongkret lebih mudah untuk dipahami daripada kata abstrak.
f. Pemakaian kata umum dan khusus
Kata Umum adalah kata yang perlu dijabarkan lebih lanjut dengan kata-kata yang sifatnya khusus untuk mendapatkan perincian yang lebih baik karena luang lingkup kata umum luas. Sedangkan kata khusus adalah kata-kata yang sempit ruang lingkupnya dan terbatas konteksnya. Contoh:
Umum Khusus
Melihat menonton (televisi, wayang)
Menengok (orang sakit)
Menatap (muka, gambar, lukisan)
Jatuh tumbang (pohon besar)
Roboh (rumah, gedung, hotel)
Pakaian baju, celana, kaos, piyama, jas
g. Penyempitan dan perluasan makna kata
Sebuah kata dikatakan mengalami penyempitan makna apabila kata tersebut dalam jangka waktu tertentu maknanya bergeser dari yang semula luas menjadi sempit. Seperti kata “gadis” yang dahulunya bermakna anak perempuan yang sudah saatnya menikah, sekarang menyempit menjadi perawan. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya dinamika bahasa. Sedangkan kata dikatakan mengalami perluasan makna apabila kata yang khusus digunakan menjadi lebih umum maknanya. Misalnya, kata bapak yang berarti ayah sekarang mempunyai arti yang lebih luas yakni semua orang laki-laki yang berkedudukan lebih tua usianya.
h. Penggunaan kata ameliorasi dan peyorasi
Ameliorasi adalah perubahan makna yang menjadi lebih baik, yakni perubahan makna lama ke makna yang baru yang dianggap lebih baik dan lebih tepat nilai rasanya. Misalnya, istri lebih baik daripada bini Dan yang dimaksud dengan peyorasi adalah proses perubahan makna kata menjadi lebih jelek atau lebih rendah daripada makna semula. Misalnya, mampus dirasa lebih kasar daripada meninggal.
Kesesuaian diksi
Kata-kata dalam pembuatan kalimat hendaknya disunting sesuai dengan tingkatan orang yang mendengarnya. Misalnya, jika berbicara dengan orang desa yang pendidikannya rendah, hendaknya tidak menggunakan kata-kata yang kurang dimengerti oleh mereka. Dibawah ini syarat-syarat kesesuaian diksi dalam situasi formal dan umum:
• Menggunakan pemakaian kata/tutur percakapan
Kata tutur adalah kata yang hanya dipakai dalam pergaulan sehari-hari, terutama dalam percakapan, seperti bilang, bikin, makanya, nantinya, beli, baca, nggak, udah, dan sebagainya. Kata-kata tersebut tidaklah formal, oleh karena itu tidak selayaknya dipakai dalam situasi yang formal.
• Menghindari bahasa nonstandar dalam situasi formal
Setiap kata-kata yang diucapkan tidak hanya menunjukkan sikap orang, tetapi juga merefleksikan tingkah laku sosial dari orang-orang yang menggunakannya. Sehingga jika seseorang memakai bahasa nonstandar digunakan dalam situasi yang formal akan mengakibatkan ketidakformalan atau ketidakseriusan situasinya.
• Menghindari kata/istilah ilmiah dalam situasi umum
Kata/istilah ilmiah hendaknya dipakai dalam situasi yang khusus. Seperti, saat berpidato didepan masyarakat pedesaan yang berpendidikan dasar atau mengengah yang tidak mengenyam pendidikan, kata atau istilah ilmiah tidak akan dapat dipahami oleh mereka. Akibatnya, informasi yang disampaikan tidak akan sampai kepada pendengar. Lebih baik menggunakan kata-kata yang populer dan mudah diterima kepada masyarakat tersebut. Contoh kata-kata ilmiah dan populer antara lain:
Kata Populer Kata Ilmiah
Anggun feminim
Perkasa maskulin
Rasa suka simpati
• Menghindari jargon
Jargon adalah sejumlah istilah yang menandai dialek profesi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah jargon diartikan sebagai kosakata khusus yang dipergunakan dibidang kehidupan (lingkungan) tertentu. Slang adalah kata-kata lama yang diberi makna baru. Contoh: cabut ‘pergi’, tancap ‘percepat atau perkencang’, dan sebagainya.
• Menghindari bahasa artifisial
Bahasa artifisial adalah bahasa yang disusun secara seni atau sastra. Pemakaian bahasa artifisial akan memudarkan pemahaman karena apa yang dimaksud dalam tulisan tidak ditampakkan secara jelas. Bahasa artifisial dibentuk seorang manusia secara sadar untuk mempermudah komunikasi dalam bentuk karya fiksi maupun khayalan. Agar kata-kata yang digunakan mempunyai makna yang berbeda dari kata yang sebenarnya.
Kesalahan dalam pemilihan diksi
Kelenturan dan kelihaian Tesaurus seringkali disalahgunakan secara berlebihan. Akibatnya, justru bukan cita rasa bahasa yang tinggi yang diperoleh, melainkan justru merusak keindahan bahasa baku. Untuk mengetahui apakah susunan kalimat maupun paragraf dengan bantuan Tesaurus menyalahi kaidah bahasa baku atau tidak, berikut kesalahan-kesalahan dalam memilih kata atau diksi.
1. Menggunakan dua kata bersinonim dalam satu frase. Contoh : agar supaya, adalah merupakan, bagi untuk, dan lain-lain.
2. Menggunakan kata tanya yang tidak menanyakan sesuatu: dimana, yang mana, mengapa, dan lain-lain.
3. Menggunakan kata berpasangan yang tidak sepadan: tidak hanya, tetapi seharusnyatidak hanya, tetapi juga, bukan hanya. 4. Menggunakan kata berpasangan secara idiometik yang tidak bersesuaian: sesuai bagi, seharusnya sesuai dengan, dan lain-lain
5. Diksi atau kalimat kurang baik atau kurang santun. Beberapa kriteria yang masuk dalam kategori ini adalah:
• Menonjolkan akunya dalam suasana formal
• Pilihan kata yang mengekspresikan data secara subjektif
• Menggunakan kata yang tidak jelas maknanya
• Diksi tidak sesuai dengan situasi yang dihadapi
SUMBER :
http://eni-astuti.blogspot.com/2012/06/diksi.html

Sabtu, 20 Oktober 2012

TUGAS 2 BAHASA INDONESIA

Nama : Alfina Octora
NPM : 10110547
Kelas : 3KA26
1. a. Hakim, jaksa, terdakwa ada diruang sidang; pengacara dan saksi berdemo dihalaman.
BENAR, karena tanda titik koma dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara didalam kalimat majemuk setara.
2. b. Kesalahan Andi bulan lalu telah diperbaiki. Ia diterima kembali oleh warga.
BENAR, karena kata diperbaiki (imbuhan di-i) digunakan untuk suatu hal yang dilakukan secara sengaja. pada kalimat pertama "Kesalahan Andi bulan lalu telah diperbaiki", menyatakan bahwa kesalahan Andi telah ia perbaiki sehingga ia diterima oleh warga kembali.
3. b. Presiden mengundang para Gubernur untuk rapat koordinasi di Jakarta.
BENAR, karena salah satu penggunaan huruf kapital adalah untuk huruf pertama unsur jabatan dan untuk nama tempat.
4. b. Persamaan dihadapan hukum berlaku bagi semua warga negara Indonesia. Asas persamaan dihadapan hukum tersebut telah diatur dalam UUD 1945.
BENAR, karena antara kalimat pertama dengan kalimat kedua dipisahkan dengan tanda titik. Tidak dibenarkan untuk mengulang kata dalam satu kalimat seperti pada kalimat a.
5. Kerukunan antar warga merupakan sarat untuk terciptanya kedamaian bangsa.
BENAR, karena kata sarat, merupakan kata dari perkembangan bahasa arab yang awalnya sjarat menjadi sarat.